GINCU HIDAYAH
Oleh: Satria
Sebagai agama wahyu terakhir, Islam merupakan bentuk final bimbingan Allah untuk umat manusia, baik secara teoritis maupun praktis. Bimbingan ini terkandung di dalam Al-Qur’an dan tertata menjadi berbagai disiplin ilmu keislaman. Di dalamnya terdapat berbagai macam kisah orang-orang terdahulu yang mendapatkan kenikmatan, hukuman, serta tidak sedikit pula orang-orang terdahulu yang mendapatkan azab atas perbuatan mereka yang durhaka dan berpaling dari jalan Allah SWT.
Selain itu terdapat juga hukum-hukum yang Allah tetapkan untuk seluruh alam semesta, terutama untuk makhluk yang ia jadikan sebagai khalifah di bumi yaitu manusia. Berbagai macam hukum tersebut, Allah tetapkan sebagai hidayah untuk menempuh kemuliaan-NYA, Karena sejatinya orang yang sudah mendapatkan hidayah dari Allah SWT, dia akan terhindar dari sifat-sifat tercela seperti : Berdusta, ingkar janji, mengumpat, bersitegang, merasa suci diri, mengutuk, ghibah dll.
Imam Al-Gazali menulis dalam kitab Mukadimah Ihya ‘Ulumuddin tentang sifat-sifat tercela sebagai berikut :
Berdusta
Jagalah lidahmu dari berdusta, tak soal bersungguh-sungguh atau bercanda. Janganlah engkau biasakan dirimu berbohong secara bercanda sebab hal ini bisa membuatmu berbohong secara bersungguh-sungguh. Berdusta termasuk sumber dosa besar. Di samping itu, jika engkau terkenal sebagai pendusta, maka kelurusanmu akan sia-sia, pernyataan-pernyataanmu akan dilecehkan, dan orang akan memandangmu dengan kebencian dan sinis.
Jika engkau ingin mengetahui keburukan berbohong pada dirimu, maka renungkanlah kebohongan orang lain dan betapa engkau menghindar darinya, membenci pelakunya dan melecehkan pernyataannya. Begitu pula kesalahanmu, sebab engkau tak mengerti keburukan kesalahanmu sendiri, tapi orang lainlah yang akan mengerti kesalahanmu.
Ingkar Janji
Waspadalah, janganlah engkau mudah membuat janji. Janganlah membuat janji jika engkau merasa tak mampu memenuhinya. Hendaklah engkau berbuat kebajikan terhadap orang dalam bentuk tindakan. Jika engkau terpaksa membuat janji, maka upayakanlah semampu mungkin untuk memenuhinya. Janganlah melanggar janji, jika bukan karena amat terpaksa atau darurat. Rasulullah Saw. Bersabda:
“Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga. jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia ingkar, dan jika dipercaya ia berkhianat. (HR Bukhari)”
Mengumpat
Jagalah lisanmu dari mengumpat. Menurut Islam, mengumpat itu lebih hebat dari tiga puluh kali berbuat zina. Hal ini dinyatakan dalam hadist.
«Adakah kamu tahu apa itu ghibah?”, mereka berkata : Allah dan RasulNya lebih mengetahui. Baginda berkata : “Engkau menyebut sesuatu mengenai saudaramu dengan perkara yang tidak disukainya“. Dikatakan : Beritahukanlah kepadaku, bagaimana sekiranya ada pada saudaraku itu apa yang aku katakan? Baginda berkata : “Sekiranya ada padanya apa yang kamu katakan, maka kamu telah mengumpatnya, jika tiada padanya apa yang kamu katakan maka kamu telah memfitnahnya». (Riwayat Muslim, Abu Daud, al-Tirmizi, al-Darimi, Ahmad dan Ibn Hibban).
Allah SWT. Berfirman :
”Janganlah saling mengumpat. Maukah engkau memakan daging saudaramu yang telah mati? Sungguh, maka hindarilah tindakan semacam itu.”
Arti mengumpat ialah menyebut atau membicarakan sesuatu pun yang tak disenanginya andai kata dia mendengarnya. (Jika engkau melakukan hal ini) berarti engkau adalah seorang pengumpat meski apa yang engkau katakan itu benar.
Bersitegang
Makna bersitegang ialah berbantah-bantahan tentang masalah-masalah keagamaan dan ketuhanan demi memperoleh nama, seolah hanya dirinyalah yang mengetahui masalah tersebut dan merasa paling benar.
Perbuatan semacam ini melukai lawan bicaranya; seolah dialah yang pandai dan lawan bicaranya itu bodoh.
Hindarilah penonjolan diri semacam itu, sebab hal ini hanya akan mengungkap kebodohan sendiri dan menimbulkan sakit hati orang, bukan kemudahan hidup yang dia peroleh namun sebaliknya. Jika engkau bersitegang dengan sang bodoh maka dia akan sakit hati, sedang jika engkau bersitegang dengan si pandai maka dia akan membencimu. Nabi Saw. Bersabda:
“Barang siapa tak mau berbantah-bantahan karena merasa salah, maka Allah akan membangunkan sebuah rumah baginya di tengah-tengah surga. Barang siapa tak mau berbantah-bantahan walau dia dalam kebenaran,maka Allah akan membangunkan sebuah rumah baginya di surga.”
Setan akan mengocehmu dan kata-kata. “Wujudkanlah kebenaran”. Barang siapa bergabung dengan paham tertentu pada masa ini, maka dia akan cenderung berbantah-bantahan dan sulit untuk diam, sebab ulama yang keji telah memberinya gagasan bahwa berbantah-bantahan itu adalah baik untuk menunjukan kemampuan berhujah dan berbicara. Larilah dari ulama semacam itu seperti engkau lari menghindar dari seekor singa. Ketahuilah bahwa berbantah-bantahan itu dibenci oleh Allah dan manusia.
Ketahuilah bahwa ada tiga macam orang beragama:
- Orang yang selamat (dari siksa akhirat), yakni orang yang senantiasa memenuhi segala perintahnya dan menghindari segala larangannya.
- Orang yang beruntung, yakni orang yang atas kehendaknya sendiri, berbuat kebajikan yang mendekatkan orang kepada Allah, dan menunaikan yang sunnah.
- Orang yang merugi, yakni orang yang melalaikan kewajiban yang diembannya. Jika engkau tidak mampu menjadi orang yang beruntung, maka setidaknya berupayalah menjadi orang yang selamat. Janganlah, sekali lagi, janganlah menjadi orang yang merugi!.
Ada tiga macam orang sehubungan dengan orang lain:
- Orang yang bias menempati kedudukan para mulia dan malaikat, yakni dengan mencurahkan dirinya untuk membahagiakan sesamanya.
- Orang yang menempatai kedudukan binatang dan benda-benda mati, yakni orang yang tidak menguntungkan ataupun merugikan sesamanya.
Orang yang menempati kalajengking, ular, dan binatang buas pemangsa, yakni orang yang tak bisa diharapkan akan memberikan kebaikan, tetapi dikhawatirkan akan merugikan. Jika engkau tak mampu meraih drajat tinggi para malaikat, maka setidaknya berupayalah untuk tidak berada pada kedudukan kalajengking, ular, dan binatang buas pemangsa. Jika engkau puas dengan ketidak berdayaan pada derajat tertinggi maka setidaknya janganlah engkau puas dengan ketercampakkan dalam derajat terendah.
Itulah beberapa pesan dari beliau yang di tulis dalam kitabnya, karena pada hakekatnya manusia tidak akan terlepas dari hukum Allah SWT.[Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali. Mizan : 74/ www.mizanpublishing.com ]
Ada dua bentuk ungkapan Al-Qur’an mengenai pemberian “hidayah” pertama dengan rumusan hada ila menunjukan ke. Dengan rumusan ini di pahami bahwa subjek hanya mengantarkan objek ke kebenaran. Yang paling mampu melaksanakan tugas itu adalah Nabi Muhammad Saw. (Q.42: 52).
Kedua dengan rumusan hadda menunjuki lalu langsung diikuti objek. Dengan rumusan itu dipahami bahwa Allah langsung memasukan kebenaran ke dalam hati orang tersebut, dan orang itu langsung pula tergerak melaksanakannya. Yang bis melakukan demikian hanyalah Allah (Q. 28: 56).a
Ada banyak kemuliaan yang Allah berikan dalam bentuk hidayah, selain itu juga orang yang benar-benar mendapatkan hidayah dari Allah SWT akan terhindar dari gincu-gincu keburukan seperti berdusta, ingkar janji, mengumpat, bersitegang, dan berbagai macam keburukan lainnya yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.
