Seminar Nasional “Uji Kelayakan Mata untuk Rukyatul Hilal”

Foto: Dokumentasi Zenith

Telah diadakan Seminar Nasional bertemakan “Uji Kelayakan Mata Untuk Rukyatul Hilal” dalam rangka Dies Natalis CSSMoRA UIN Walisongo ke-11 yang jatuh pada (12/12). Seminar ini dilaksanakan di Auditarium 1 kampus 1 UIN Walisongo Semarang pada hari Selasa 18 desember 2018.

Seminar ini menghadirkan empat narasumber yang menyampaikan  materi diantaranya adalah Prof. Dr. H. Thomas Djamaluddin, M.Sc. selaku Kepala Lembaga Penerbangan dan Antartika Nasional, KH. M. Inwanuddin selaku Lajnah Falakiyah PCNU Gresik, Drs. KH. Selamet Hambali, M.SI selaku ketua PWNU Jawa Tengah dan Dr. KH. Ahmad Izuddin M, Ag. Selaku ketua Umum Asosiasi Dosen Falak Indonesia

Pada seminar tersebut, KH. M. Inwanuddin, ahli rukyatul hilal nasional menjelaskan bagaimana kita bisa melihat hilal. disini KH. M. Inwanuddin mengatakan bahwa penampakan hilal harus dengan mata meskipun dengan alat optik atau tidak. Disini  juga dijelaskan bahwa rukyatul hilal harus dengan mata agar menghasilkan rukyah yang berkualitas. dan hilal itu biasanya terlihat sesudah matahari terbenam namun prosesnya itu sebelum matahari terbenam. KH. M. Inwanuddin mengatakan “ kita bisa melihat hilal itu dari azimuth matahari, dan kita harus tau berapa lama hilal itu terlihat. Jadi untuk awal kita tidak boleh hanya menggunakan satu metode tapi banyak metode dan setelah semua itu siap kita harus mempersiapkan juga jam dan jam yang digunakan adalah jam digital bukan jam analog.”

Selain membahas tentang alat-lat yang diperlukan dalam rukyatul hilal dan cara yang harus dilakukan, disini juga dijelaskan oleh Drs. KH. Selamet Hambali, M.SI selaku narasumber kedua bahwa Beliau adalah termasuk orang yang rajin atau rutin  melakukan rukyatul hilal. beliau menegaskan “untuk melihat hilal itu harus yakin, jadi jika itu bukan hilal jangan diyakini.

Terakhir, Prof. Dr. H. Thomas Djamaluddin, M.Sc. selaku kepala lembaga penerbangan dan antartika Nasional. menjelaskan bahwa kontras itu dapat mengalahkan cahaya syafak, dan disini juga dijelaskan bahwa fungsi teleskop itu bukan hanya memperbesar tetapi untuk memperkuat cahaya, jadi masalah hilal adalah masalah kontras ketajaman mata. Adanya perbedaan antara Muhamadiyah dan NU juga menjadikan perbedaan penentuan awal syawal. Jadi pentingnya kriteria itu agar para perukyat itu punya pegangan.

Seminar Nasional yang membahas tentang uji kelayakan mata untuk rukyatul hilal ini juga tidak hanya dihadiri oleh mahasiswa UIN Walisongo. tapi juga dihadiri oleh mahasiswa dari luar UIN Walisongo. Bahkan ada yang diluar Jawa seperti Mahasiswa IAIN Gorontalo dan Louksemawe yang juga ikut hadir di acara tersebut.

Antusiasme para peserta seminar nasional sangat baik. Hal ini telihat dari banyaknya peserta yang memperhatikan dan banyaknya peserta yang memberikan pertanyaan-pertanyaan seputar masalah yang telah disampaikan oleh narasumber sebelumnya. Sesi Tanya jawa selesai, kegiatan seminar ini diakhiri dengan foto-foto bersama serta membagikan sertifikat oleh panitia pelaksana kepada narasumber dan para peserta seminar yang hadir.

Nur Imani Surur selaku ketua pelaksana seminar tersebut mengatakan bahwa tujuan dilaksanakannya seminar ini adalah untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai hilal dan kriteria-kriteria yang harus dimiliki para perukyat. Beliau pun sangat berterima kasih kepada semua pihak yang sudah meluangkan waktunya untuk mengahadiri acara ini dan selaku ketua panitia beliau meminta maaf yang sebesar-besarnya karna masih banyak kekurangan dalam acara.

“Semoga seminar ini memberikan manfaat kepada peserta seminar yang hadir. Serta dengan seminar ini kami berharap mahasiswa tidak lagi salah kaprah dalam memahami tentang Hilal.”  Tutur Nur Imani Surur (Tahta/Sela)