Zenith Lahir Dari Hasrat Untuk Menulis

Empat hari yang lalu BSO Zenith mengadakan acara pelantikan kru tetap dengan periode tanggung jawab 2018-2019 di Auditorium 1 Kampus 1 UIN Walisongo Semarang. Selain pelantikan, lembaga pers yang awalnya berada di bawah departemen Komunikasi dan Informasi (Kominfo) CSSMoRA UIN Walisongo pada hari itu resmi memisahkan diri yang kemudian bertransformasi menjadi Badan Semi Otonon untuk pertama kalinya.
Zenith ini adalah lembaga pers yang bergerak di bidang jurnalistik namun tetap berada di bawah koridor lembaga CSSMoRA UIN Walisongo. Produk dari Zenith ini ada dua jenis, yakni majalah dan buletin sastra. Nama majalah dan nama lembaganya sama yaitu Zenith tetapi untuk buletin sastra, lembaga ini menamakannya Magesty. Pada periode awal, baik Zenith ataupun Magesty ini ternyata merupakan produk yang sama secara jenis rubrik hanya saja yang menjadi pembeda utama adalah dari segi waktu terbit. Zenith memang lebih terfokus pada hal terkait falak sedang Magesty bersifat lebih umum sehingga Magesty ini bisa terbit hingga 4 kali dalam setahun sedang Zenith hanya 3 kali dalam setahun. Namun seiring dengan berjalannya waktu, majalah Zenith dan Magesty ini kemudian punya ciri tersendiri. Majalah Zenith fokus kepada hal-hal yang berbau falak sedang Magesty fokus pada bidang sastra.
Menulis adalah embrio Zenith
Hari sabtu kemarin tanggal 06 Oktober 2018, Zenith mengadakan acara workshop untuk pertama kalinya sejak menjadi BSO. Acara tersebut mendatangkan tiga narasumber sekaligus untuk memberikan materi yang berkaitan dengan kejurnalistikan, kesastraan, dan desain grafis serta fotografi. Salah satu dari tiga narasumber tersebut adalah mbak Lutfi alumni CSSMoRA UIN Walisongo tahun 2014 yang sekarang melanjutkan studi S2 dengan prodi yang sama. Pada momen itu, ia menjelaskan awal mula berdirinya lembaga pers Zenith yang didasari oleh spirit untuk menulis. Begini ceritanya:
Pada tahun 2009 ketika angkatan pertama CSSMoRA UIN Walisongo sudah mengenal hal-hal yang berkaitan dengan falak dan kebetulan ilmu falak hanya bisa dicicipi oleh anggota CSSMoRA, saat itulah mereka kemudian memiliki inisatif untuk mengabadika keilmuannya dalam bentuk teks. Kemudian ketua CSSMoRA UIN Walisongo yang pertama, Mariyani (Ketua pertama Cssmora UINWS) bersama dengan rekan-rekan lain, berinisiasi untuk memberikan wadah kepada anggota CSSMoRA yang ingin menuangkan potensi-potensi kepenulisan mereka sekaligus memanfaatkan dana yang telah diberikan oleh Kementrian Agama kepada lembaga. Lalu lahirlah lembaga pers Zenith yang saat ini kita kenal dalam CSSMoRA UIN Walisongo.
Motivasi menulis ini kemudian menghantarkan Zenith untuk mengadirkan wajahnya menjadi produk yang berbentuk majalah. Majalah tersebut tetap bernama seperti lembaganya yaitu Zenith. Sedang edisi yang kali pertama terbit itu berjudul Ilmu Falak: Khazanah Keislaman yang Hampir Hilang. Sangat Falak sekali.
Namun yang perlu kita perhatikan di sini adalah komitmen para senior dalam memperjuangkan lembaga Zenith. Lutfi Nur Fadhillah (CSSMoRA 2014) sendiri pernah bertanya kepada salah satu pimpinan umum Zenith, M. Saleh Sofyan (CSSMoRA 2011) tentang kesan perjuangannya. Ternyata memang hal tersebut sangat “berat” hingga tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, tetapi itu rasa.
Akhirnya, kita sekarang yang hanya menyambung estafet kepengurusan BSO Zenith sudah seharusnya terus memupuk semangat menulis. Dengan menulis, kita sebenarnya merefleksikan diri kita untuk menjadi lebih baik. Karena sejatinya, tulisan adalah cerminan diri sekaligus respon dari proses membaca. Semangat menulis inilah yang melahirkan Zenith dan tulisan membuatnya abadi, tak lekang di makan waktu. Zenith akan terus hidup. Selamanya. (Harly)
